Map Ascent dari Valorant dikembangkan 5 tahun

Map yang jadi pondasi Valorant itu sendiri

Valorant berhasil diterima dengan baik oleh para gamer. Dirilis tanggal 2 juni kemarin, setelah sebelumnya dilepas secara closed beta pada 7 april 2020. Sekarang, game ini jadi daya tarik tersendiri. Dalam scene esports, berbagai tim besar mulai membentuk divisi Valorant mereka. Riot Games bahkan sudah melepas turnamen resmi mereka. Valorant Ignition Series, turnamen dengan sistem sirkuit sudah dilaksanakan pada 19 juni 2020.

Keberhasilan Valorant jadi salah satu game kompetitif baru memang patut diacungi jempol. Kami juga sependapat bahwa game seperti gabungan 2 game yang sudah lebih dulu populer. Game tersebut adalah CS:GO dan juga Overwatch. Menitikberatkan pertempuran bersenjata 5v5 namun dengan tambahan skill unik. Hal menarik lainnya, Valorant merupakan game yang sangat ringan secara spesifikasi. Pemain dapat dengan mudah mendapatkan playable framerate meski dengan komputer kentang sekalipun.

Satu hal yang seharusnya tidak luput dari perhatian adalah map yang digunakan. Tim dibalik Valorant berhasil membuat map yang memiliki keseimbangan. Tak hanya itu, hampir tidak ada detil map yang dirasa mengganggu atau tidak terlalu penting.

Salah satu map yang paling menarik adalah Ascent. Map yang diperkenalkan sebagai map ke 4 dari game Valorant. Map yang secara desain, mengambil inspirasi dari Venice. Salah satu kota indah di Italia yang ternyata tampil indah di Valorant.

(Image credit: Riot Games)
(Image credit: Riot Games)

Tapi tak banyak yang tahu bagaimana proses pengembangan map ini. Meski diperkenalkan sebagai map ke 4, Ascent justru merupakan jadi pondasi dari Valorant secara keseluruhan. Dengan map inilah tim pengembang menyempurnakan gameplay dan hal-hal lain. Melalui map inilah para tester menguji coba setiap mekanik dan detil lainnya. Maka tak berlebihan jika akhirnya map ini baru dilepas setelah pengembangan selama 5 tahun.

(Image credit: Riot Games)

Jika melihat tim dibalik Valorant, durasi waktu pengembangan tersebut sepertinya bisa dimaklumi. Orang-orang di dalamnya sudah berpengalaman dalam game kompetitif dan juga first person shooter. Sebut saja Trevor  Romleski yang merupakan designer dari League of Legends. Salvatore Garozzo yang dulunya mantan pemain profesional dan juga map designer dari CS:GO. Juga, Moby Francke yang merupakan mantan karyawan Valve yang terlibat dalam desain karakter Half-Life 2 dan Team Fortress 2.

Dengan kombinasi tim seperti itu, tentu Riot Games menginginkan hasil yang terbaik untuk Valorant. Dikembangkan sejak 2014, hingga akhirnya rilis di bulan juni kemarin. Akhirnya, Ascent mengalami begitu banyak perubahan jika dibanding dengan versi awalnya. Sebuah hasil kerja yang layak untuk diapresiasi.

More Stories
Fall Guys akan hadirkan banyak konten di setiap season-nya